Himpunan Mahasiswa Islam yang bergerak dengan nilai-nilai keislaman disertai dengan adanya doktrinisasi sejarah peradaban islam, sehingga diharapkan seluruh interaksi yang dibangun oleh kader HMI berdasarkan nilai-nilai tersebut, mampu memaksimalkan peran dan tanggung jawabnya dalam pembangunan bangsa Indonesia yang adil dan makmur.
HMI hingga saat ini sudah melahirkan berbagai tokoh dan para pejabat politik yang berperan dalam mendukung pembangunan bangsa Indonesia. Menunjukkan bahwa sejarah organisasi HMI tersebut mampu menciptakan kader yang memiliki fulfilment personality yaitu kepribadian yang selaras antara pikiran, perasaan, dan perilaku. Hal ini menunjukkan bahwa sehatnya kepribadian kader karena bergerak dengan nilai-nilai keislaman
Namun demikian, hal ini belum terealisasi dengan maksimal. Dilihat bagaimana para oknum kader HMI yang mengatasnamakan dirinya sebagai individu intelektual namun cenderung tidak menginternalisasikan nilai-nilai keintelektualan tersebut dengan moral yang adaptif, seperti adanya keberpihakan oknum kader HMI terhadap sebuah praktik politik, bergerak atas dasar kepentingan individu bukan untuk kepentingan masyarakat, memposisikan dirinya sebagai maha kuasa.
Hal ini yang membuat organisasi HMI saat ini semakin ketinggalan dan tidak up to date, dari aspek pergerakan hingga perkaderan, karena adanya perasaan superior bahwa mengangggap dirinya di atas dan tidak lagi membutuhkan sebuah input dan perbaikan karakter. Lebih tepat disebut sebagai krisis moral yaitu sebuah kondisi ketika nilai dan prinsip dasar yang tidak lagi digunakan dalam perilakunya, sehingga apabila sesuai konteks organisasi yang berasaskan islam, HMI dapat diperkirakan tidak lagi bergerak dengan dasar-dasar nilai-nilai keislaman yang seharusnya.
Salah satu contoh dari hal ini adalah normalisasi perkaderan sebagai kegiatan formalitas yang dilakukan atas dasar kepentingan politik organisasi, bukan lagi sebagai proses pembentukan dan pengembangan karakter intelektual yang memiliki nilai-nilai keislaman, seperti labelisasi Latihan Kader III menjadi jenjang perkaderan formalitas untuk menunaikan persyaratan sebagai pejabat organisasi, sehingga menyebabkan tidak maksimalnya proses pembelajaran dan pembentukan karakter di dalam forum LK III.
Selanjutnya, dalam Latihan kader III membahas mengenai bagaimana mengimplementasikan sebuah strategi yang adaptif dalam merespon perubahan sosial, namun tidak menyadari bahwa yang perlu diubah terlebih dahulu adalah karakter kader HMI yang merepresentasikan dirinya sebagai elitis organisasi namun tidak menerapkan nilai-nilai keislaman. Tidak perlu diperjelas bagaimana bentuk perilakunya, karena hal ini menjadi rahasia umum yang sudah diketahui di kalangan kader HMI.
Dengan memahami adanya krisis moral, HMI perlu membuat sebuah program pengembangan karakter yang disertai dengan kesadaran pentingnya menginternalisasi nilai-nilai keislaman. Selanjutnya pentingnya kader HMI memiliki pengetahuan dan kesadaran bahwa nilai-nilai keislaman perlu diinternalisasikan menjadi bagian dari kepribadian kader.
Kepribadian yang baik ini dapat melahirkan pemikiran san sikap ayng lebih menghargai sesame kader dan sesama manusia. Pemahanan ini membuat semua orang sebagai kader lebih mengoptimalisasi baik dari segi pengetauan, sikap serta relasi yang panjang untuk kemajuan dan keberlanjutan organisasi yang lebih baik. Pemimpin yang lahir dari hal tersebut dapat menanamkan semangat bagi orang lain karena kita setiap kader melahirkan para pemimpin bangsa yang baik.
Hal serta upaya yang dapat dilaksanakan adalah memperluas pengetahuan kita, setelahnya bisa memahami sikap dari bertindak mengambil Keputusan serta mempengaruhi orang lain, dengan semangat tersebut kepemimpinan dapat tercipta dengan baik. Kemampuan memimpin yang baik melahirkan pemimpin yang berjiwa besar, berjiwa besar berarti sebagai pemimpin selain menjadi panutan atau kalifah fil ard, namun juga mewujudkan perwujudan tatanan negara yang lebih baik kedepannya sehingga dapat membuat dan mengembangkan negara yang lebih baik dan lebih makmur lagi.

