Search

Pertamina dan 285T: Jejak Mafia dan Korupsi Sistemik

Pertamina dan Rp 285 Triliun Yang Dicuri 9 Tersangka dan Terminal Rahasia
Pertamina dan Rp 285 Triliun Yang Dicuri 9 Tersangka dan Terminal Rahasia

Pertamina dan 285 triliun yang hilang karena terlibat dengan mafia energi dan korupsi sistemik. Hal ini merupakan pengkhianatan secara terstruktur dalam menghancurkan keutuhan bangsa sendiri.

Di tengah krisis yang mencekik dan harga sembako yang terus naik, rakyat hanya bisa menggenggam doa dan bensin oplosan dari Pertamina. Sementara itu, uang negara diam-diam mengalir deras ke tempat yang tak semestinya: rekening para pengkhianat.

Kasus korupsi tata kelola minyak dan produk kilang Pertamina tahun 2018–2023 bukan sekadar penyimpangan prosedur. Ini adalah kejahatan sistemik terhadap jantung energi bangsa. Pada 10 Juli 2025, Kejaksaan Agung menetapkan 9 tersangka baru di kasus Pertamina ini. Para pelaku berasal dari jajaran direksi Pertamina hingga mafia lama yang kembali muncul ke permukaan.

Tahun-Tahun Pertamina Yang Membusuk dalam Sunyi

Jika 2018–2023 adalah periode gelap di tubuh Pertamina. Maka hal itu merupakan kebohongan dari laporan laba dan jargon “mandiri energi”, berlangsung penghisapan rapi yang melibatkan:

  • Pengadaan tanpa lelang, sehingga penunjukan sudah jelas
  • BBM oplosan Pertamina beredar sebagai Pertamax, sehingga rakyat harus menanggung imbasnya
  • Tarif logistik dimahalkan, namun mahal karena hasil mark-up
  • Aset negara dialihkan, sehingga banyak kerugian
  • Mafia lama seperti Riza Chalid kembali bermain, sehingga pemain lama muncul kembali

9 Tersangka Baru, 1 Sistem Yang Rusak di Tubuh Pertamina

Kejaksaan Agung menetapkan tersangka baru di kasus korupsi Pertamina:

  1. Hanung Budya – Pengesahan distribusi BBM cacat
  2. Hasto Wibowo – Atur penunjukan langsung
  3. Dwi Sudarsono – Manipulasi harga
  4. Toto Nugroho – Tandatangani kontrak ilegal
  5. Alfian Nasution – Buka jalan pengadaan ke luar negeri
  6. Arief Sukmara – Atur logistik kapal bayangan
  7. Martin Haendra Nata – Penghubung Pertamina dan Trafigura
  8. Indra Putra – Jalur distribusi BBM oplosan
  9. Mohammad Riza Chalid – Mafia minyak lama, kini buron

Baca Juga: Setya Novanto dan Parodi Keadilan Indonesia: Pengampunan bagi Penjarah Negara

Modus Operasi: Merampok Lewat Sistem

Penunjukan Langsung dan Monopoli Terselubung
Kontrak dari Pertamina ke perusahaan tertentu tanpa lelang, yaitu berulang dan sistematis.
BBM Oplosan beredar secara Resmi
Pencampuran RON 90 menjadi RON 92, yaitu Pertamax. Rakyat membayar lebih mahal untuk kualitas lebih buruk.
Manipulasi Logistik
Jalur kapal tidak sesuai rute. Sehingga menyebabkan biaya naik 13–15%. Menyewa Terminal dari perusahaan Riza Chalid.
Pemalsuan Dokumen & Hilangnya Aset
Memalsukan dokumen tender. Sehingga hal ini berimbas pada Aset negara dicatat sebagai milik swasta.
Koneksi Global & Perlindungan Asing
Transaksi lewat Trafigura, yaitu menjadikan Singapura sebagai tameng hukum. Riza Chalid berlindung di luar negeri.

Baca Juga: Chromebook Rp 9,9 Triliun dan Bayang-bayang Korupsi Digitalisasi Pendidikan

Jejaring Gelap di Balik Wajah-Wajah Korporat dan Pertamina

Riza Chalid – Pemilik terminal minyak, merupakan mafia lama
Trafigura Pte Ltd – Yaitu tameng global kejahatan lokal
PT Mahameru Kencana Abadi – Jalur BBM oplosan
Pelindung Politik – Dengan demikian, banyak tersangka berafiliasi ke partai & lembaga
Mata Rantai Kebal Hukum – Jika ekstradisi macet, maka laporan internal dihalangi

Baca Juga: Pendidikan: 116 Miliar Anggaran Tak Bertuan

Dampak ke Rakyat: Kompor Padam, Dompet Menipis

  • Harga BBM Naik, Tapi Oplosan
    Rakyat tertipu oleh sistem resmi.
  • Subsidi Bocor Lewat Data Palsu
    Negara membayar dua kali—ke mafia dan subsidi rakyat.
  • Uang Publik Hilang
    Rp 285 triliun bisa bangun 5.000 RS kecil, 100.000 guru honorer.
  • Ketimpangan Melebar
    Desa gelap, kota terang dari uang kotor.

Yang Terbakar Bukan Hanya Minyak, Tapi Harga Diri Bangsa

Korupsi ini adalah pembunuhan lambat atas harapan.
Yang terbakar bukan hanya minyak di tangki, tapi kepercayaan dan masa depan bangsa terhadap Pertamina.

Mereka yang kini duduk sebagai tersangka hanyalah permukaan. Di bawahnya, ada sistem. Di atasnya, ada pelindung. Dan di balik semuanya, ada rakyat yang diam-diam dihancurkan.

Artikel Oleh Penulis

Moco Lainnya

Jika DPRD Harus Memilih Kepala Daerah, di mana Suara Rakyat
Jika DPRD Harus Memilih Kepala Daerah, di mana Suara Rakyat?
Optimalisasi Peran Perempuan dalam Ranah Politik dan Pembangunan Bangsa Indonesia
Optimalisasi Peran Perempuan dalam Ranah Politik dan Pembangunan Bangsa Indonesia
Revitalisasi Wawasan Nusantara di Tengah Krisis Identitas
Revitalisasi Wawasan Nusantara di Tengah Krisis Identitas
Apa yang bisa dipelajari dari organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi yang melahirkan banyak pejabat, namun saat ini mengalami krisis moral
Apa yang bisa dipelajari dari organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi yang melahirkan banyak pejabat, namun saat ini mengalami krisis moral
Dibalik Optimistic Bias dapat merusak peran Kader HMI dalam Menjaga Kesejahteraan Indonesia
Dibalik Optimistic Bias dapat merusak peran Kader HMI dalam Menjaga Kesejahteraan Indonesia
Ilustrasi digital sarkastik yang menggambarkan sistem hukum otoriter Indonesia melalui Revisi KUHAP dan RUU Perampasan Aset, menyoroti ancaman terhadap hak warga sipil dan prinsip keadilan.
Perampasan Aset dan Revisi KUHAP: Perampasan Melalui Hukum
Air dan Pikiran Mengalir dalam Simpul Perenungan
Air dan Pikiran: Mengalir dalam Simpul Perenungan
Tamasya Batin dan Neurosains Dzikir Menemukan Tuhan dalam Keheningan
Tamasya Batin dan Neurosains Dzikir: Tuhan dalam Keheningan
Pertamina dan Rp 285 Triliun Yang Dicuri 9 Tersangka dan Terminal Rahasia
Pertamina dan 285T: Jejak Mafia dan Korupsi Sistemik
Setya Novanto dan Parodi Keadilan Indonesia
Setya Novanto dan Parodi Keadilan Indonesia: Pengampunan bagi Penjarah Negara