Ketika Hati Melayang
Tamasya Batin, karena tidak semua yang sujud mengerti kepada siapa ia bersujud. Tidak semua doa, berasal dari kedalaman rindu. Akan tetapi pada malam-malam tertentu, ketika dunia telah tertidur, ada jiwa yang bangkit untuk bersimpuh. Begitu pula antara sajadah dan langit, ia mulai melakukan perjalanan.
Bukan perjalanan fisik, melainkan tamasya batin—di mana kesadaran melayang, pikiran berputar dalam pusaran yang tak kasat mata, dan doa mengalir deras bukan hanya dari mulut, tapi dari rongga terdalam jiwa. Sebuah pengalaman yang sulit dijelaskan, namun bisa dirasakan: damai, tenang, dan seperti berada dalam orbit yang bukan dunia.
Apa Itu Tamasya Batin?
Karena tidak semua perjalanan butuh langkah, maka tidak semua jarak butuh peta. Jika ada perjalanan yang hanya bisa dilakukan oleh jiwa—dan ketika tubuh tak bergerak, maka kesadaran menjelajahi langit adalah yang tak terlihat.
Itulah tamasya batin: perjalanan tanpa kaki, ziarah menuju ruang terdalam dalam diri, tempat di mana suara dunia perlahan senyap dan gema, sehingga Tuhan mulai terdengar dalam sunyi.
Para sufi menyebut ini sebagai fana’, karena lenyapnya kesadaran akan diri, dan baqa’, tumbuhnya kesadaran hanya kepada Allah.
Sebagaimana hikmah sufi yang dikenal sebagai berikut:
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu
“Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
Allah berfirman:
وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
“Dan pada dirimu sendiri, apakah kamu tidak memperhatikan?”
(QS Al-Dzariyat: 21)
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي ٱلْآفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran Kami) di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, hingga jelaslah bagi mereka bahwa (Al-Qur’an) itu adalah benar.”
(QS Fussilat: 53)
Baca Juga: Gamelan Jawa: Alunan Ketenangan dalam Kesenian Nusantara
Dzikir dan Ketenteraman Otak
Apa yang terjadi jika satu nama berulang di bibir hingga membuat ribuan beban di kepala perlahan luruh?
Inilah dzikir: sebuah jalan sederhana yang mengubah kesadaran menjadi suci.
Penelitian neurosains menunjukkan sebagai berikut:
- Jika gelombang otak masuk ke fase theta (4–8 Hz) dan alpha (8–12 Hz), maka tanda relaksasi dan fokus mendalam sedang terjadi.
- Begitu pula Amygdala (pusat stres) menjadi suatu ketenangan.
- Jika Lobus prefrontal (kesadaran) aktif, maka lobus parietal (orientasi ego) menurun—hal ini membuat seseorang merasa “menyatu” dengan sesuatu yang agung.
Nabi ﷺ bersabda:
أَنَا عِندَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي
“Aku bersama hamba-Ku ketika ia mengingat-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia menyebut-Ku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ… إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ…
“Tidaklah suatu kaum berkumpul membaca Kitab Allah dan mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan…”
(HR. Muslim, no. 2700)
Baca Juga: Musik Kroncong: Keindahan yang Tidak Pernah Lekang oleh Waktu
Dzikir Sebagai Jalan Transformasi
Dzikir bukan hanya membasahi lisan, akan tetapi membentuk karakter dan menata jiwa. Sehingga ia menumbuhkan taqwa, menjernihkan hati, menahan nafsu, dan menghidupkan akal.
Allah berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ…
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS Ar-Ra’d: 28)
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ…
“Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu…”
(QS Al-Baqarah: 152)
Praktik Tamasya Batin dalam Kehidupan Sehari-Hari
- Awali hari dengan dzikir:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا… (HR. Bukhari) - Luangkan waktu hening: duduk 5–10 menit menyebut “اللَّه… اللَّه…” dengan sadar.
- Dzikir setelah shalat: jangan terburu-buru. Duduklah, pejamkan mata, dan resapi makna kehadiran-Nya.
- Hadirkan-Nya di setiap aktivitas: saat mengemudi, bekerja, atau mencuci piring dengan hati yang berdzikir.
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ
“Dan Dia bersama kamu di mana pun kamu berada.”
(QS Al-Hadid: 4)
- Akhiri hari dengan dzikir dan istighfar.
الحمد لله رب العالمين menjadi ucapan sebelum tidur.
Dengan demikian, dzikir tidak hanya menjadi laku ibadah, tetapi juga terapi harian yang menjaga kewarasan batin.
Baca Juga: Beringin: Pohon Kehidupan, Bukan Pohon Keramat
Saat Dunia Tak Lagi Menggoda
Jika ada satu titik di mana dunia tak lagi membanggakan, maka jiwa telah menemukan rumahnya—yakni Allah.
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ…
“Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul, kami menjadi saksi.”
(QS Al-A’raf: 172)
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ…
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu…”
(QS Al-Fajr: 27–30)
Jika tamasya batin adalah cahaya dalam langkah, maka dia menjadi pelita dalam gelap, hingga menjadi panggilan halus untuk kembali pulang.
Semoga tulisan ini menjadi undangan lembut bagi siapa pun yang membaca, untuk menghidupkan dzikir, mengenal dirinya, dan akhirnya… mengenal Tuhannya.





