Search

Masjid Pathok Negoro Yogyakarta: Pilar Kesultanan Yogyakarta

Masjid Pathok Negoro Yogyakarta
Sumber Gambar : Wikipedia Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Masjid Pathok Negoro Yogyakarta, artikel ini akan membahas tentang salah satu peninggalan bersejarah yang berperan penting dalam sejarah Kesultanan Yogyakarta, yaitu Masjid Pathok Negoro. 

Nama “Pathok Negoro” mengandung makna tapal batas sebuah negara atau kerajaan pada masa lampau. Bangunan masjid ini memiliki peran khusus dalam sejarah kesultanan, yang bermula ketika Sultan Hamengku Buwono I belajar di bawah bimbingan ulama bernama Kyai Muhammad Faqih. 

Ulama tersebut menasehati Sultan untuk mengangkat pathok negoro. Yaitu para ulama yang mendidik dengan ajaran agama serta mengajarkan akhlak dan budi pekerti, dan dalam hal ini, setiap ulama yang diangkat mendapatkan tanah perdikan.

Sejarah ini menghubungkan keberadaan Masjid Pathok Negoro dengan peran ulama dan pendidikan di kesultanan. Kyai Muhammad Faqih, yang juga merupakan kakak ipar Sultan Hamengku Buwono I, menjadi kepala pathok pada tahun 1701. 

Tugasnya adalah membimbing dan mendidik masyarakat dengan ajaran Islam, yang pada akhirnya menginspirasi pembangunan masjid. Lokasi masjid ini semula memiliki nama Wa Anna Karoma, yang berarti “agar mulya sungguh-sungguh”. Namun, pelafalan lokal mengubahnya menjadi Wonokromo.

Masjid Pathok Negoro juga banyak yang mengenalnya sebagai Kiblat Papat Lima Pancer, menunjukkan betapa pentingnya peran masjid ini dalam kehidupan spiritual dan budaya masyarakat Yogyakarta.

Menelusuri Jejak Sejarah: Masjid Pathok Negoro Yogyakarta dan Keajaiban Spiritualnya

Masjid Taqwa Wonokromo

Masjid Pathok Negoro Yogyakarta
Sumber Gambar : Wikipedia Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Salah satu masjid yang menjadi perhatian di Yogyakarta adalah Masjid Taqwa Wonokromo. Terletak di daerah Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta, masjid ini menawarkan suasana tenang yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. 

Keberadaannya dekat dengan sungai Opak dan sungai Oya membuat suasana lingkungan menjadi damai. Yang mendukung para jamaah dalam khusyuk dalam beribadah. Luas tanah 5000 meter persegi menjadi tempat berdirinya masjid ini. Dengan bangunan seluas 420 meter persegi yang telah berkembang menjadi 750 meter persegi. 

Serambi masjid memiliki luas 250 meter persegi dan juga terdapat dengan ruang perpustakaan seluas 90 meter serta halaman seluas 4000 meter persegi.

Masjid Sulthoni Plosokuning

Masjid Pathok Negoro Yogyakarta
Sumber Gambar : Maps Masjid Sulthoni Plosokuning

Di Jl. Plosokuning Raya Nomor 99, Minomartani, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta, berdiri Masjid Sulthoni Plosokuning. 

Masjid ini menghiasi lahan seluas 2.500 meter persegi yang kepemilikikannya adalah Kesultanan Yogyakarta. Bangunannya berukuran 288 meter persegi, yang setelah mengalami perombakan, kini menjadi 328 meter persegi. 

Pembangunan Masjid ine oleh Sri Sultan Hamengku Buwono III, ayah dari Pangeran Diponegoro, yang memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan nasional. Pangeran Diponegoro adalah Kyai Raden Mustafa (Hanafi I) yang juga merupakan abdi dalem di Keraton Kasultanan Yogyakarta.

Masjid Jami’ An-Nur Mlangi

Masjid ini terletak di dusun Mlangi, desa Nogotirto, kecamatan Gamping, kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, dan termasuk dalam kawasan desa wisata Mlangi. 

Meski memiliki luas tanah hanya 1000 meter persegi, masjid ini menawarkan ruang yang efisien. Ruang utamanya memiliki luas 20 x 20 meter persegi, serambi masjid 12 x 20 meter, dan ruang perpustakaan 7 x 7 meter persegi. 

Halaman masjid seluas 500 meter persegi juga turut menyempurnakan fasilitas ini. Karena terletak lebih rendah dari tanah sekitarnya, akses ke masjid ini memiliki fasilitas dengan anak tangga.

Masjid Nurul Huda Dongkelan

Masjid Pathok Negoro Yogyakarta
Sumber Gambar : Maps Masjid Nurul Huda Dongkelan

Terletak di desa Kauman, Dongkelan, Tirtomartani, Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta, Masjid Nurul Huda memiliki cerita yang menarik. 

Pada tahun 1775, masjid ini menjadi tempat ibadah dan juga benteng pertahanan. Kyai Syihabudin memiliki peran penting sebagai penghulu dan pengelola masjid ini. 

Beliau berhasil memenangkan sayembara Pangeran Mangkubumi untuk mencari pengawal dengan kekuatan sakti, menunjukkan pengabdian dalam menjaga masjid dan kesultanan.

Masjid Ad-Dorojatun Babadan

Masjid Ad-Dorojatun Babadan berlokasi di desa Babadan, Banguntapan, Bantul, DI Yogyakarta. Kehadirannya yang dekat dengan JEC menjadikannya mudah anda temukan. Masjid ini memiliki kisah yang mencolok, karena dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1774. 

Arsitektur masjid ini sama dengan Masjid Pathok Negoro, mencerminkan hubungan sejarah dan nilai-nilai tradisional yang masih dijunjung tinggi.

Dengan keberagaman masjid-masjid yang ada di Yogyakarta, setiap satu di antaranya memiliki nilai sejarah dan budaya yang kaya, mengingatkan kita akan peran penting agama dalam membentuk identitas dan perkembangan suatu daerah. 

Masjid Pathok Negoro sebagai pilar kesultanan tetap menjadi simbol penting dalam mewariskan nilai-nilai tradisional dan keagamaan kepada generasi muda.

Menggenggam Warisan Berharga: Kisah Keberagaman Masjid-Masjid Yogyakarta

Dalam kaya warna budaya dan spiritualitas Yogyakarta, masjid-masjid seperti Pathok Negoro berdiri sebagai pilar-pilar yang mengingatkan kita akan nilai-nilai sejarah dan keagamaan yang telah membentuk perjalanan kerajaan dan masyarakat. 

Dari Masjid Taqwa Wonokromo yang tenang hingga Masjid Ad-Dorojatun Babadan yang memiliki arsitektur klasik, setiap masjid memberikan lapisan baru dalam keragaman dan warisan yang bermakna dari generasi ke generasi. 

Sembari kita memandang masa lalu, kita juga merangkul masa depan, menjaga kekayaan ini agar tetap bersinar dalam bingkai sejarah dan membawa inspirasi bagi setiap individu yang menjelajahi perjalanan spiritual dan intelektual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Oleh Penulis