Search

Sam Poo Kong : Destinasi Wisata Religi Konghucu di Semarang

Sam Poo Kong
Sumber Gambar : pinterest Dwi nugroho

Kelenteng Sam Poo Kong, terletak di Kelurahan Bongsari, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, adalah sebuah kawasan wisata religi bagi umat Konghucu. 

Di sini, kita akan menemukan arsitektur khas Tiongkok yang memikat dan nilai historis panjang. Sebagai salah satu tempat peristirahatan Laksamana Cheng Ho saat berlayar di Pulau Jawa enam abad lalu.

Menelusuri Jejak Sejarah Sam Poo Kong: Destinasi Religi Konghucu yang Memikat di Semarang

Pada abad ke-15 Masehi, Laksamana Cheng Ho mendapat perintah dari Dinasti Ming untuk melakukan pelayaran perdamaian dan diplomatik di bawah Kaisar Yongle. 

Pelayaran pertamanya berawal pada tahun 1405 dan mengunjungi banyak kota di Indonesia, termasuk Kota Semarang, Jawa Tengah.

Kedatangan Cheng Ho di Semarang, khususnya di kawasan Gedong Batu Simongan (Sam Poo Kong), berhubungan dengan istirahat dan pengobatan juru mudinya bernama Wang Jing Hong. 

Selama berada di sana, mereka berinteraksi dengan masyarakat setempat dan membagikan pengetahuan tentang bercocok tanam. 

Setelah perjalanan berlanjut, Wang Jing Hong memilih untuk tinggal di Simongan dan mendirikan sebuah patung di dalam goa peristirahatannya.

Awalnya, goa tempat peristirahatan Cheng Ho berfungsi sebagai tempat sembahyang umat Konghucu sebelum akhirnya runtuh pada tahun 1704. 

Selain itu, untuk mengenang perjalanan Cheng Ho di Semarang. Goa tersebut dibangun kembali bersama dengan kelenteng yang diberi nama Sam Poo Kong. 

Nama kelenteng ini terpilih untuk menghormati pimpinan armada, Laksamana Cheng Ho, yang bernama asli Ma San Bao. Nama keleteng ini memiliki arti “Gua San Bao” dalam dialek Hokkian.

Menggambarkan Kecemerlangan dan Perjalanan Sejarah Religi di Semarang

Pada masa pemerintahan Soekarno, kondisi Sam Poo Kong mengalami sedikit perkembangan, termasuk pembangunan bangunan dan pertumbuhan jemaat. 

Di masa Orde Baru, Kelenteng ini mengalami beberapa perubahan dalam upaya pembangunan kawasannya.

Setelah era reformasi, Kelenteng ini berkembang pesat, terutama setelah Gus Dur mengakui Konghucu sebagai salah satu agama di Indonesia. 

Pada tahun 2002, awal mulainya pembangunan kawasan kelenteng ini yang menjadikannya destinasi wisata religi terkenal hingga saat ini.

Artikel Oleh Penulis

Moco Lainnya

Jika DPRD Harus Memilih Kepala Daerah, di mana Suara Rakyat
Jika DPRD Harus Memilih Kepala Daerah, di mana Suara Rakyat?
Optimalisasi Peran Perempuan dalam Ranah Politik dan Pembangunan Bangsa Indonesia
Optimalisasi Peran Perempuan dalam Ranah Politik dan Pembangunan Bangsa Indonesia
Revitalisasi Wawasan Nusantara di Tengah Krisis Identitas
Revitalisasi Wawasan Nusantara di Tengah Krisis Identitas
Apa yang bisa dipelajari dari organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi yang melahirkan banyak pejabat, namun saat ini mengalami krisis moral
Apa yang bisa dipelajari dari organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi yang melahirkan banyak pejabat, namun saat ini mengalami krisis moral
Dibalik Optimistic Bias dapat merusak peran Kader HMI dalam Menjaga Kesejahteraan Indonesia
Dibalik Optimistic Bias dapat merusak peran Kader HMI dalam Menjaga Kesejahteraan Indonesia
Ilustrasi digital sarkastik yang menggambarkan sistem hukum otoriter Indonesia melalui Revisi KUHAP dan RUU Perampasan Aset, menyoroti ancaman terhadap hak warga sipil dan prinsip keadilan.
Perampasan Aset dan Revisi KUHAP: Perampasan Melalui Hukum
Air dan Pikiran Mengalir dalam Simpul Perenungan
Air dan Pikiran: Mengalir dalam Simpul Perenungan
Tamasya Batin dan Neurosains Dzikir Menemukan Tuhan dalam Keheningan
Tamasya Batin dan Neurosains Dzikir: Tuhan dalam Keheningan
Pertamina dan Rp 285 Triliun Yang Dicuri 9 Tersangka dan Terminal Rahasia
Pertamina dan 285T: Jejak Mafia dan Korupsi Sistemik
Setya Novanto dan Parodi Keadilan Indonesia
Setya Novanto dan Parodi Keadilan Indonesia: Pengampunan bagi Penjarah Negara