Search

Situs Warungboto : Pesona Arsitektur Abad ke-18

Situs Warungboto
Sumber Gambar : pinterest 1001indonesia

Situs Warungboto, Dalam keberagaman sejarah Indonesia, tak terhitung banyak situs bersejarah yang menjadi saksi bisu zaman dan kejayaan masa lalu. 

Salah satunya adalah bangunan ini, yang dulunya banyak mengenalnya sebagai Pesanggrahan Rejowinangun pada abad ke-18. 

Situs ini menyimpan kisah yang menarik tentang kehidupan kerajaan dan arsitektur masa lampau yang masih mempesona hingga saat ini.

Merunut Jejak Megah Situs Warungboto: Mengungkap Pesona Arsitektur Abad ke-18

Pesanggrahan yang Bergaya Kerajaan

Situs Warungboto, dahulu Pesanggrahan Rejowinangun, pendiriannya sebagai tempat beristirahat bagi keluarga kerajaan, yang saat itu pemerintahannya oleh Sultan Hamengkubuwono II. 

Sejak masa Pangeran Rejakusuma, pesanggrahan ini sudah berdiri kokoh, menjelma dari sebuah pesanggrahan menjadi sebuah warisan bersejarah yang memukau.

Bukan hanya sekadar tempat beristirahat, Pesanggrahan Rejowinangun juga memiliki peran pertahanan. Berada di sisi timur Keraton Ngayogyakarta, bangunan ini menjadi benteng pertahanan yang kuat. 

Selain itu, struktur bangunannya sendiri sudah mencerminkan kecanggihan teknik konstruksi pada masa itu. Keberadaan Pesanggrahan Rejowinangun menjadi bagian penting dalam mengawal kerajaan.

Situs Warungboto – Keindahan Arsitektur dan Fungsinya

Dalam kompleks Pesanggrahan Rejowinangun, terdapat berbagai fasilitas yang menceritakan kehidupan keluarga kerajaan. Kolam pemandian menjadi salah satu elemen menarik. 

Di tengah kolam, terdapat mata air yang disebut “TUK,” yang dulu kegunannya sebagai sarana pemandian untuk raja dan keluarga. Namun, sayangnya, mata air ini kini telah mengering, dan kolam hanya menjadi jejak dari masa silam.

Sebutan “TUK UMBUL” merujuk pada mata air tersebut, dan itulah mengapa Pesanggrahan Rejowinangun juga dikenal dengan nama Situs Warungboto. 

Selanjutnya, ada pula ruangan bernama MIKHRAB, tempat untuk beribadah sholat, dan bangunan tinggi di sudut utara dan selatan yang dulu kegunannya sebagai gardu pandang untuk mengintai musuh.

Situs Warungboto – Kepulihan dari Bencana

Sayangnya, pada 26 Mei 2006, gempa dahsyat menghantam Yogyakarta dan tak terkecuali Situs Warungboto. Beberapa struktur bangunan mengalami kerusakan serius, mengingatkan kita pada kerapuhan zaman. 

Namun, melalui usaha revitalisasi yang dilakukan antara 2015 hingga Desember 2016, bangunan ini kembali berdiri tegak dengan kemegahan dan pesonanya.

Dengan demikian, revitalisasi ini berhasil menghidupkan kembali daya tarik bangunan ini. Wisatawan kini bisa mengunjungi dan merasakan keindahan arsitektur serta sejarah di baliknya.

Magnet Wisata dengan Arsitektur Unik

Dengan arsitektur yang khas dan memukau, Situs Warungboto menjadi daya tarik yang tak bisa abda abaikan oleh para wisatawan. 

Mereka datang untuk menikmati setiap sudut bangunan yang penuh sejarah, mencari momen indah untuk diabadikan dalam foto-foto indah. 

Bukan hanya wisatawan lokal, bahkan putra dan putri Presiden RI, Bapak Joko Widodo, turut menjadikan bangunan ini sebagai latar belakang foto pra pernikahan.

Bukti Pelestarian Sejarah

Sejak pembukaannya untuk umum, Situs Warungboto menjadi contoh nyata pelestarian cagar budaya. Badan Pelestari Cagar Budaya DIY turut berperan menjaga dan mengelola situs ini, sehingga wisatawan bisa mendapatkan informasi yang memadai tentang sejarahnya. 

Selain itu, keberadaan bangunan ini telah menginspirasi pembentukan kelompok jaringan pariwisata, Kampung Wisata Warungboto, sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat sekitar.

Mengukir Kenangan Abadi: Situs Warungboto sebagai Warisan Bersejarah dan Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Bangunan ini tak hanya sebuah bangunan bersejarah. Ia adalah perwujudan kecanggihan arsitektur masa lalu, simbol kekuatan dan keindahan kerajaan pada zamannya. 

Selain itu, dengan upaya pelestarian dan perhatian dari berbagai pihak, kita bisa terus menikmati pesona Situs Warungboto, meresapi cerita-cerita yang terpahat dalam tiap dinding dan lorongnya. Sebuah perjalanan menyusuri waktu yang tak terlupakan.

Artikel Oleh Penulis

Moco Lainnya

Jika DPRD Harus Memilih Kepala Daerah, di mana Suara Rakyat
Jika DPRD Harus Memilih Kepala Daerah, di mana Suara Rakyat?
Optimalisasi Peran Perempuan dalam Ranah Politik dan Pembangunan Bangsa Indonesia
Optimalisasi Peran Perempuan dalam Ranah Politik dan Pembangunan Bangsa Indonesia
Revitalisasi Wawasan Nusantara di Tengah Krisis Identitas
Revitalisasi Wawasan Nusantara di Tengah Krisis Identitas
Apa yang bisa dipelajari dari organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi yang melahirkan banyak pejabat, namun saat ini mengalami krisis moral
Apa yang bisa dipelajari dari organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi yang melahirkan banyak pejabat, namun saat ini mengalami krisis moral
Dibalik Optimistic Bias dapat merusak peran Kader HMI dalam Menjaga Kesejahteraan Indonesia
Dibalik Optimistic Bias dapat merusak peran Kader HMI dalam Menjaga Kesejahteraan Indonesia
Ilustrasi digital sarkastik yang menggambarkan sistem hukum otoriter Indonesia melalui Revisi KUHAP dan RUU Perampasan Aset, menyoroti ancaman terhadap hak warga sipil dan prinsip keadilan.
Perampasan Aset dan Revisi KUHAP: Perampasan Melalui Hukum
Air dan Pikiran Mengalir dalam Simpul Perenungan
Air dan Pikiran: Mengalir dalam Simpul Perenungan
Tamasya Batin dan Neurosains Dzikir Menemukan Tuhan dalam Keheningan
Tamasya Batin dan Neurosains Dzikir: Tuhan dalam Keheningan
Pertamina dan Rp 285 Triliun Yang Dicuri 9 Tersangka dan Terminal Rahasia
Pertamina dan 285T: Jejak Mafia dan Korupsi Sistemik
Setya Novanto dan Parodi Keadilan Indonesia
Setya Novanto dan Parodi Keadilan Indonesia: Pengampunan bagi Penjarah Negara